• Beranda
  • Profil
    Sekilas PalopoSejarahLambang DaerahVisi dan MisiGeografisKeadaan Iklim TopografiStruktur Tanah
  • Pemerintahan
    Dinas DaerahLembaga Teknis KecamatanSekretariat DaerahStaf AhliStruktur OrganisasiJumlah Kec & Kel
  • Regulasi
    Perda 2004 & 2005Perda 2006 & 2007Perda 2008 & 2009RPJMD Kota PalopoRingkasan APBD
  • Galeri Foto
    Kegiatan 2009Kegiatan 2010
  • Fasilitas Kota
    Hotel Bank PT dan AkademiRumah Sakit Rumah Makan Transportasi DaratSarana Olahraga Gedung Pertemuan
  • Potensi Daerah
    Pertanian dan PeternakanPerikanan dan KelautanPerkebunan Peluang Investasi Obyek WisataPotensi Tambang Kepiting Lunak
  • Info Data
    KependudukanPertumbuhan EkonomiPeta JalanPeta WilayahSosial BudayaPDRB Kota Palopo

Profil walikota
Profil
wakil walikota
  • Halaman Depan
  • Bukutamu
  • Kontak Admin
  • Sekilas Info
  • Agenda Kegiatan
  • Berita Nasional
  • Telepon Penting
  • Penghargaan
  • Info Lelang 2010
  • A r t i k e l
  • 2010
  • 2009
  • 2008
  • 2007








Selektif Memilih Kampus

Andi Andrianto

Dibaca:49 Kali

Memilih Perguruan Tinggi tidak mudah seperti dibayangkan. Apalagi bagi MaBa (mahasiswa baru) yang hendak menimba ilmu dalam dunia kampus. Di Yogyakarta saja terdapat 20.849 calon mahasiswa baru yang ikut tes seleksi penerimaan PT.

Dan, sudah tentu MaBa acapkali dihadapkan pada pilihan rumit, memilih PT favorit dengan biaya mahal, PT yang biasa saja, atau kampus yang bernuansa religius, dan masih banyak lagi kriteria lain bagi MaBauntuk menjatuhkan pilihan hatinya menempuh jenjang PT yang menjadi idaman.

Sementara itu, pada lain pihak PT menginginkan MaBa dapat memilih kampus mereka. Guna memikat hati MaBa, berbagai PT mengemas strategi jitu untuk menampilkan kampus yang dapat menjadi selera bagi calon mahasiswa. Sudah barang tentu politik pencitraan adalah pilihan yang cerdas agar mahasiswa baru tertarik masuk dalam PT tersebut.

Biasanya yang sering kita lihat adalah promisi besar-besaran yang dilakukan PT. Demi menggait calon mahasiswa, ada kampus yang kadang “mencuri start” dalam mensosialisasikan PT. Dalam arti, jurus yang digunakan umumnya meminta bantuan alumni untuk mempromosikan kampusnya kepada calon mahasiswa baik dengan cara terbuka atau tersembunyi.

Selain itu, pihak kampus memang cerdik mengemas citra sehingga MaBa terpincut masuk dalam PT yang bersangkutan. Cara lain yang juga digunakan PT yakni dengan menampilkan prestasi kampus terhadap alumninya yang telah “sukses” dalam persaingan pasar kerja.

Ada pula kampus yang menampilkan fasilitas maupun infrastruktur kampus yang lebih unggul dibanding PT lain. Iklan di koran atau televisi, brosur, pamplet dan juga pihak kampus masuk ke sekolah-sekolah di desa, merupakan pilihan strategis dalam mempromosikan PT agar MaBa jatuh cinta dengan kampus tersebut.

Politik pencitraan yang ditempuh PT dalam perjalanan promosinya terkadang membuat bingung atau bahkan kabur bagi orang tua dan juga MaBa. Masalahnya cara di atas secara seragam hampir semua dilakukan PT. Alhasil, MaBa dan orang tua sulit memilih, karena semua yang ditampilkan PT baik-baik dan seakan kampus tersebut tak memiliki kekurangan, selain itu strategi politik pencitraan acap menafikan kejujuran yang sejatinya dijunjung tinggi dalam dunia akademik.

Misalkan saja, ada PT yang baru-baru ini didera skandal plagiator oleh civitas akademikanya, dan semua orang tahu akan masalah itu, tapi dengan sangat percayaan diri PT tersebut menggunakan media pencitraan dengan tawaran yang seakan-akan menjanjikan harapan yang lebih baik bagi peserta didiknya.

Selektif Memilih Kampus Pemaparan di atas merupakan sekelumit perjalanan PT dalam dinamika seleksi penerimaan mahasiswa baru. Namun, kita berharap sebagai calon pemimpin bangsa, garda perubahan, mahasiswa tidak menjadi korban politik pencitraan yang dilakukan PT.

Calon mahasiswa baru sejatinya bisa cerdas dalam memilih kampus yang nantinya menjadi tempat pergulatan ilmu pengetahuan. Pada titik itu, penulis memiliki tawaran rasional agar mahasiswa baru tak keliru memilih PT. Dengan lain perkataan, jangan sampai MaBa menyesal di belakang ketika sudah menjatuhkan pada pilihan tertentu dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi. Dan, tawaran penulis tidak menunjuk pada satu perguruan tinggi tertentu sebab itu kurang etis.

Pengalaman selama menjadi mahasiswa memberi gambaran komprehensip pada penulis dan juga teman-teman yang lain. Bahwa kampus ibarat “hutan belantara” yang di dalamnya terdapat pergulatan berbagai disiplin ilmu baik ilmu sosial, agama, politik, budaya, ataupun ilmu eksat, pemikiran yang berbeda, ada yang liberal, progresif, kaku, dan macam-macam.

Dinamika kampus dengan ragam ilmu pengetahuan kerap mengalami pasang surut, kadang naik terkadang turun. Dengan arti sederhana, ilmu pengetahuan yang menjadi basis kekuatan bagi mahasiswa dalam setiap PT tidaklah sama porsinya. Walaupun tidak semua, tapi lebih banyak PT di negeri ini jika boleh saya berucap telah tercerabut dari akar ilmu pengetahuan yang menjadi jangkar dalam PT.

Indikator yang paling nyata: tradisi ilmiah merosot tajam, membaca (realitas sosial) buku, berdiskusi, apalagi menulis sangat minim. Sebaliknya, gaya hidup hedonis, cara berpikir instan, budaya konsumerisme adalah sederet dekradasi yang melanda dunia kemahasiswaan. Di kota-kota besar, berbagai PT dihadapkan pada realitas objektif bahwa kini banyak sekali mahasiswa yang lebih ikhlas mengeluarkan uangnya demi memenuhi kebutuhan gengsi, citra, hasrat status sosial.

Misalkan saja, ada mahasiswa yang lebih memilih memberi HP bagus, pulsa banyak daripada membeli buku. Lebih dari itu, kehidupan mahasiswa kini lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup yang mengumbar kemewahan. Sudah bukan rahasia umum, seringkali kali dan bahkan jumlahnya lebih banyak mahasiswa yang doyan main ke mall, tempat hiburan malam daripada mereka berdiam lama di perpustakaan sebagai gudang ilmu pengetahuan.

Itulah dinamika kemahasiswaan yang terjadi baik di dalam maupun di luar kampus. Kondisi objektif yang demikian itu sejatinya dapat menjadi gambaran komprehensip khususnyabagi mahasiswa baru dalam menentukan pilihan menempuh jenjang PT yang menjadi tempat pergolakan ilmu pengetahuannya kelak.

Dengan maksud sederhana, sejatinya MaBa sebelum memilih PT mengetahui lebih dahulu mana perguruan tinggi yang masih kuat memegang tradisi ilmiahnya, paling tidak; budaya membaca, berdiskusi, menulis, masih terlihat jelas dalam iklim kampus yang dinamis.

Dengan demikian, selain MaBa tidak menjadi “korban” politik citra kampus, calon mahasiswa baru juga mendapat ilmu pengetahuan yang brilian dalam iklim kampus yang sudah menjadi pilihan. Semoga!

Andi.Andrianto* Akitivis Fakultas Dakwah UIN Suka Yogyakarta. Bergiat di Cahaya Institute.

{ Lihat artikel lainnya } { Kirim artikel anda }
               















Pemerintah Kota Palopo
Jalan Andi Djemma No:66
Telepon:0471-21007
Fax:0471-21003
Email:admin@palopokota.go.id

Statistik pengunjung
Pengunjung hari ini :32
Pengunjung kemarin :50
Pengunjung bulan ini:383
Pengunjung bulan lalu:1996
Total kunjungan :666196
Copyright © Pemerintah Kota Palopo All rights reserved 2010